KOTA SERANG.- DR. Moh. Ali Fadillah, Pendiri Perkumpulan Banten Heritage yang juga seorang arkeolog menyatakan, diperlukan 5 upaya untuk menjaga kelestarian terumbu karang agar manfaatnya masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
"Lima upaya tersebut yaitu, studi keanekaragaman sebagai sumber pembelajaran ekosistem pesisir tropis, pemetaan potensi pertumbuhan terumbu karang di seluruh pesisir Provinsi Banten, menetapkan titik strategis sebagai areal konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan beberapa jenis terumbu karang, menyediakan media kehidupan (transplantasi) terumbu karang sesuai dengan kondisi eksisting dengan mempertimbangkan tingkat ancaman dan potensi kerusakan alami atau buatan (eksploitasi) dan diseminasi pengetahuan tentang terumbu karang di kalangan generasi muda melalui lembaga pendidikan (go-to school & go-to campus)," katanya pada acara Diskusi Publik "Terumbu Karang untuk Masa Depan Bangsa" yang digelar FPTK Provinsi Banten, Rabu (09/09/2026) di Resto Teras Bamboo, Cipocok Jaya, Kota Serang.
Lanjut Ali, lima upaya tersebut terkait dengan 3 predikat "Siapa Kita...?" dalam konteks hubungan manusia dengan alam/lingkungan. "Siapa kita yang pertama adalah Pewaris Kekayaan Indonesia, siapapun, perorangan, lembaga pemerintah, NGO, pebisnis, nelayan dan kaum terpelajar berkontribusi untuk memelihara potensi sumberdaya hayati di tempat kita hidup," ungkapnya.

Siapa kita kedua, Masyarakat Pelestari Laut Indonesia, sekumpulan orang terpelajar yang berhimpun dalam berbagai komunitas, menjadikan lingkungan sekitar tetap terjaga bagi kelangsungan hidup bersama dan Siapa Kita ketiga, Generasi Cerdas Bangsa Indonesia, membangkitkan kesadaran terdidik untuk riset, konservasi, dan pemanfaatan cerdas pentingnya terumbu karang dan menjadikannya sebagai media pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam penguatan jati diri dan transformasi identitas Banten.
"Coral Reefs goes to School & Campus yang digagas dan menjadi Program FPTK Banten dalam Gerakan Membangun Terumbu Karang (Gerbang Terang) 2025-2029 merupakan satu bagian dari lima upaya menjaga kelestarian terumbu karang, sehingga perlu mendapat dukungan, khususnya dari institusi pendidikan, sekolah dan kampus/perguruan tinggi," tukasnya.
Sementara itu, Ketua FPTK Banten, Nurwarta Wiguna menyampaikan selayang pandang berdirinya gerakan dan forum tersebut pada September 2020 lalu. "Hari ini adalah Milad ke-6 berdirinya FPTK Provinsi Banten yang lahir dari kepedulian rusaknya terumbu karang akibat diterjang Tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu, khususnya di Pulau Badul, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.
"Awalnya kami melakukan Gerakan Rehabilitasi/Restorasi Terumbu Karang (GRTK) 2020 sebagai respons dampak tsunami selat sunda 2018. GRTK mendapatkan dukungan positif dari sejumlah institusi/lembaga baik pemerintah maupun swasta/NGO. Tiga tahun kemudian, GRTK diubah menjadi Gerakan Membangun Terumbu Karang (Gerbang Terang) dengan pilar utamanya adalah mendidik karakter konservasi kepada masyarakat, komunitas, pelajar dan mahasiswa. Sejumlah kegiatan edukasi telah dilaksanakan FPTK Banten ke sejumlah sekolah dan kampus di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon sejak 2024 hingga sekarang," paparnya.
Ia menegaskan, guna lebih meningkatkan kuantitas (jumlah sasaran sekolah/kampus serta pelajar/mahasiswanya) dan kualitas edukasi (materi, metode, media dll) terumbu karang ke sekolah dan kampus secara berkelanjutan diperlukan kolaborasi/kemitraan dengan stakeholders terkait, mengingat keterbatasan kapasitas dan sumber daya manusia di FPTK Banten. "Atas dasar itulah, FPTK Banten bersama Banten Heritage, menggagas acara diskusi publik dengan mengundang sejumlah stakeholders terkait, yang diharapkan bisa melahirkan gagasan serta aksi nyata ke depannya," pungkasnya.
Sejumlah perwakilan institusi/lembaga yang hadir pada acara tersebut menyambut baik acara diskusi tersebut dan akan menindaklanjuti hasilnya di internal masing-masing, sehingga nantinya bisa melahirkan kerjasama/kemitraan dengan FPTK Banten.
Salah satunya dari Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR). Dalam acara tersebut langsung ditandatangani Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) dengan FPTK Banten untuk program Coral Reefs goes to Campus.
"Kami sangat mengapresiasi upaya FPTK Banten yang sejak tahun 2020 hingga sekarang konsen terhadap terumbu karang, baik untuk kegiatan transplantasinya maupun edukasinya kepada kalangan pelajar dan mahasiswa. Untuk itu, kami menyambut dengan baik dengan menjalin kemitraan selama 3 tahun ke depan dengan FPTK Banten, dan dalam waktu dekat ini, kami akan melakukan aksi bersama," kata Iman Sampurna, M.Pd.

Hadir dalam acara tersebut dari perwakilan dari unsur Dinas Pemerintah Provinsi Banten, yakni Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Pendidikan & Kebudayaan (Dindikbud) dan Dinas Pariwisata (Dispar). Perwakilan perguruan tinggi yakni dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Serang, Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR), Universitas Bina Bangsa (Uniba) dan Universitas Primagraha (UPG).
Sementara dari perwakilan dari komunitas terdiri dari, Banten Heritage, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Cilegon, Coral Reefs Community & Himadira FKIP Untirta, Squad Pulau Merak Besar (SPMB), Sobat Freedive, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banten, dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Banten.***

KOTA SERANG.- DR. Moh. Ali Fadillah, Pendiri Perkumpulan Banten Heritage yang juga seorang arkeolog menyatakan, diperlukan 5 upaya untuk menjaga kelestarian terumbu karang agar manfaatnya masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang.
"Lima upaya tersebut yaitu, studi keanekaragaman sebagai sumber pembelajaran ekosistem pesisir tropis, pemetaan potensi pertumbuhan terumbu karang di seluruh pesisir Provinsi Banten, menetapkan titik strategis sebagai areal konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan beberapa jenis terumbu karang, menyediakan media kehidupan (transplantasi) terumbu karang sesuai dengan kondisi eksisting dengan mempertimbangkan tingkat ancaman dan potensi kerusakan alami atau buatan (eksploitasi) dan diseminasi pengetahuan tentang terumbu karang di kalangan generasi muda melalui lembaga pendidikan (go-to school & go-to campus)," katanya pada acara Diskusi Publik "Terumbu Karang untuk Masa Depan Bangsa" yang digelar FPTK Provinsi Banten, Rabu (09/09/2026) di Resto Teras Bamboo, Cipocok Jaya, Kota Serang.
Lanjut Ali, lima upaya tersebut terkait dengan 3 predikat "Siapa Kita...?" dalam konteks hubungan manusia dengan alam/lingkungan. "Siapa kita yang pertama adalah Pewaris Kekayaan Indonesia, siapapun, perorangan, lembaga pemerintah, NGO, pebisnis, nelayan dan kaum terpelajar berkontribusi untuk memelihara potensi sumberdaya hayati di tempat kita hidup," ungkapnya.

Siapa kita kedua, Masyarakat Pelestari Laut Indonesia, sekumpulan orang terpelajar yang berhimpun dalam berbagai komunitas, menjadikan lingkungan sekitar tetap terjaga bagi kelangsungan hidup bersama dan Siapa Kita ketiga, Generasi Cerdas Bangsa Indonesia, membangkitkan kesadaran terdidik untuk riset, konservasi, dan pemanfaatan cerdas pentingnya terumbu karang dan menjadikannya sebagai media pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dalam penguatan jati diri dan transformasi identitas Banten.
"Coral Reefs goes to School & Campus yang digagas dan menjadi Program FPTK Banten dalam Gerakan Membangun Terumbu Karang (Gerbang Terang) 2025-2029 merupakan satu bagian dari lima upaya menjaga kelestarian terumbu karang, sehingga perlu mendapat dukungan, khususnya dari institusi pendidikan, sekolah dan kampus/perguruan tinggi," tukasnya.
Sementara itu, Ketua FPTK Banten, Nurwarta Wiguna menyampaikan selayang pandang berdirinya gerakan dan forum tersebut pada September 2020 lalu. "Hari ini adalah Milad ke-6 berdirinya FPTK Provinsi Banten yang lahir dari kepedulian rusaknya terumbu karang akibat diterjang Tsunami Selat Sunda pada 2018 lalu, khususnya di Pulau Badul, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.
"Awalnya kami melakukan Gerakan Rehabilitasi/Restorasi Terumbu Karang (GRTK) 2020 sebagai respons dampak tsunami selat sunda 2018. GRTK mendapatkan dukungan positif dari sejumlah institusi/lembaga baik pemerintah maupun swasta/NGO. Tiga tahun kemudian, GRTK diubah menjadi Gerakan Membangun Terumbu Karang (Gerbang Terang) dengan pilar utamanya adalah mendidik karakter konservasi kepada masyarakat, komunitas, pelajar dan mahasiswa. Sejumlah kegiatan edukasi telah dilaksanakan FPTK Banten ke sejumlah sekolah dan kampus di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon sejak 2024 hingga sekarang," paparnya.
Ia menegaskan, guna lebih meningkatkan kuantitas (jumlah sasaran sekolah/kampus serta pelajar/mahasiswanya) dan kualitas edukasi (materi, metode, media dll) terumbu karang ke sekolah dan kampus secara berkelanjutan diperlukan kolaborasi/kemitraan dengan stakeholders terkait, mengingat keterbatasan kapasitas dan sumber daya manusia di FPTK Banten. "Atas dasar itulah, FPTK Banten bersama Banten Heritage, menggagas acara diskusi publik dengan mengundang sejumlah stakeholders terkait, yang diharapkan bisa melahirkan gagasan serta aksi nyata ke depannya," pungkasnya.
Sejumlah perwakilan institusi/lembaga yang hadir pada acara tersebut menyambut baik acara diskusi tersebut dan akan menindaklanjuti hasilnya di internal masing-masing, sehingga nantinya bisa melahirkan kerjasama/kemitraan dengan FPTK Banten.
Salah satunya dari Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR). Dalam acara tersebut langsung ditandatangani Nota Kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) dengan FPTK Banten untuk program Coral Reefs goes to Campus.
"Kami sangat mengapresiasi upaya FPTK Banten yang sejak tahun 2020 hingga sekarang konsen terhadap terumbu karang, baik untuk kegiatan transplantasinya maupun edukasinya kepada kalangan pelajar dan mahasiswa. Untuk itu, kami menyambut dengan baik dengan menjalin kemitraan selama 3 tahun ke depan dengan FPTK Banten, dan dalam waktu dekat ini, kami akan melakukan aksi bersama," kata Iman Sampurna, M.Pd.

Hadir dalam acara tersebut dari perwakilan dari unsur Dinas Pemerintah Provinsi Banten, yakni Bappeda, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Dinas Pendidikan & Kebudayaan (Dindikbud) dan Dinas Pariwisata (Dispar). Perwakilan perguruan tinggi yakni dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Serang, Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR), Universitas Bina Bangsa (Uniba) dan Universitas Primagraha (UPG).
Sementara dari perwakilan dari komunitas terdiri dari, Banten Heritage, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Cilegon, Coral Reefs Community & Himadira FKIP Untirta, Squad Pulau Merak Besar (SPMB), Sobat Freedive, Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banten, dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Banten.***
