PADA pertengahan Oktober hingga April setiap tahunnya, kaum nelayan, khususnya di Kampung Katapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang harus sudah "mengencangkan ikat pinggang", lantaran selama beberapa bulan tersebut mereka tidak bisa menangkap ikan di laut. Bulan-bulan itu disebut musim "Angin Barat" yang ditandai dengan kencangnya angin laut dan derasnya ombak.
Dilansir dari situs langgengpancing.com musim angin baratan adalah angin yang berhembus dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat. Hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia.
Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi antara bulan Oktober sampai bulan April. Kondisi ini tentu diperparah dengan ombak laut yang cukup ganas serta badai angin. Nelayan setempat, menyebut musim ini sebagai musim “paceklik” karena banyak nelayan yang tidak berani melaut. Pada musim ini, nyaris seluruh perairan seperti tidak ada ikannya.
"Selama ini, jika sedang musim angin barat, yaa, kami tidak melaut. Kalau gak punya pekerjaan sampingan seperti warungan dan lainnya, kami tidak punya penghasilan. Kalau lagi bener-bener susahnya, pada musin angin barat, kami terpaksa harus menjual barang di rumah, bahkan sampai perabotan dapur harus rela melayang demi mendapatkan seliter beras," ujar Ruyadinata, Ketua RT.03/RW.01, Kampung Katapang, seraya diamini kaum ibu yang sedang mengerjakan pelapisan pasir pada Rak Jaring Laba-Laba.
Namun, tutur Ruyadi, sejak tahun 2021, sejak berdirinya Forum Pelestari Terumbu Karang (F-PTK) Provinsi Banten, sejumlah warga selalu mendapatkan berkah pada musim paceklik tersebut. Berkah tersebut didapat mereka dari mengerjakan pembuatan media transplantasi terumbu karang model Rak Jaring Laba-Laba (Web Spider) serta dari jasa menyelam dan sewa perahu.
"Tahun 2021, pertama kali kami diberdayakan oleh F-PTK Banten untuk menjadi pegiat pelestari terumbu karang. Awalnya kami diberikan pelatihan singkat tentang transplantasi dan pengelasan medianya. Waktu itu, F-PTK Banten mendapatkan donasi Rak Laba-Laba dari PT. Telkom Indonesia yang menggandeng LAZ Harfa Banten. Kami, sekira 10 orang warga di sini (Katapang-red) mendapatkan pekerjaan membuat 352 rak jaring laba-laba. Pekerjaannya mulai dari memotong besi, mengelas, melapisi rak dengan pasir pantai hingga melakukan transplantasi di sekitaran Pulau Badul. Alhamdulillah, dari pekerjaan itu kami mendapatkan upah, yang menurut kami sangat cukup untuk menutupi belanja kebutuhan hidup dalam beberapa hari," ungkapnya.
Ditambahkan, awalnya, semua pekerjaan tersebut dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun, pada tahun 2023, khusus untuk melapisi rak dengan pasir pantai dikerjakan oleh kaum perempuan (emak-emak). "Mungkin karena upahnya menurut emak-emak cukup lumayan, mereka kemudian meminta kepada saya agar pekerjaan tersebut diberikan kepada emak-emak," katanya sambil tersenyum.
Sampai saat ini, berkah tersebut terus mengalir kepada sebagian warga Katapang. "Tahun 2021 sampai 2024 ini, kami selalu mengerjakan pembuatan rak laba-laba dari Program Konservasi Terumbu Karang dukungan dari PT. Telkom Indonesia, PT. Pelindo Regional II Banten dan PT. PLN Indonesia Power. Sudah ribuan rak yang kami kerjakan sejak tahun 2021 hingga 2024 ini. Berkahnya, dapur rumah kami masih tetap Ngebul dengan adanya program ini, meski menghadapi musin barat," ujarnya, seraya menutup obrolan santai sambil menyeruput kopi panas yang baru saja disuguhkan sang istri.***
PADA pertengahan Oktober hingga April setiap tahunnya, kaum nelayan, khususnya di Kampung Katapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang harus sudah "mengencangkan ikat pinggang", lantaran selama beberapa bulan tersebut mereka tidak bisa menangkap ikan di laut. Bulan-bulan itu disebut musim "Angin Barat" yang ditandai dengan kencangnya angin laut dan derasnya ombak.
Dilansir dari situs langgengpancing.com musim angin baratan adalah angin yang berhembus dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia (musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di Indonesia bagian Barat. Hal ini disebabkan karena angin melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra. Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China Selatan dan Samudra Hindia.
Angin Musim Barat menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan. Angin ini terjadi antara bulan Oktober sampai bulan April. Kondisi ini tentu diperparah dengan ombak laut yang cukup ganas serta badai angin. Nelayan setempat, menyebut musim ini sebagai musim “paceklik” karena banyak nelayan yang tidak berani melaut. Pada musim ini, nyaris seluruh perairan seperti tidak ada ikannya.
"Selama ini, jika sedang musim angin barat, yaa, kami tidak melaut. Kalau gak punya pekerjaan sampingan seperti warungan dan lainnya, kami tidak punya penghasilan. Kalau lagi bener-bener susahnya, pada musin angin barat, kami terpaksa harus menjual barang di rumah, bahkan sampai perabotan dapur harus rela melayang demi mendapatkan seliter beras," ujar Ruyadinata, Ketua RT.03/RW.01, Kampung Katapang, seraya diamini kaum ibu yang sedang mengerjakan pelapisan pasir pada Rak Jaring Laba-Laba.
Namun, tutur Ruyadi, sejak tahun 2021, sejak berdirinya Forum Pelestari Terumbu Karang (F-PTK) Provinsi Banten, sejumlah warga selalu mendapatkan berkah pada musim paceklik tersebut. Berkah tersebut didapat mereka dari mengerjakan pembuatan media transplantasi terumbu karang model Rak Jaring Laba-Laba (Web Spider) serta dari jasa menyelam dan sewa perahu.
"Tahun 2021, pertama kali kami diberdayakan oleh F-PTK Banten untuk menjadi pegiat pelestari terumbu karang. Awalnya kami diberikan pelatihan singkat tentang transplantasi dan pengelasan medianya. Waktu itu, F-PTK Banten mendapatkan donasi Rak Laba-Laba dari PT. Telkom Indonesia yang menggandeng LAZ Harfa Banten. Kami, sekira 10 orang warga di sini (Katapang-red) mendapatkan pekerjaan membuat 352 rak jaring laba-laba. Pekerjaannya mulai dari memotong besi, mengelas, melapisi rak dengan pasir pantai hingga melakukan transplantasi di sekitaran Pulau Badul. Alhamdulillah, dari pekerjaan itu kami mendapatkan upah, yang menurut kami sangat cukup untuk menutupi belanja kebutuhan hidup dalam beberapa hari," ungkapnya.
Ditambahkan, awalnya, semua pekerjaan tersebut dilakukan oleh kaum laki-laki. Namun, pada tahun 2023, khusus untuk melapisi rak dengan pasir pantai dikerjakan oleh kaum perempuan (emak-emak). "Mungkin karena upahnya menurut emak-emak cukup lumayan, mereka kemudian meminta kepada saya agar pekerjaan tersebut diberikan kepada emak-emak," katanya sambil tersenyum.
Sampai saat ini, berkah tersebut terus mengalir kepada sebagian warga Katapang. "Tahun 2021 sampai 2024 ini, kami selalu mengerjakan pembuatan rak laba-laba dari Program Konservasi Terumbu Karang dukungan dari PT. Telkom Indonesia, PT. Pelindo Regional II Banten dan PT. PLN Indonesia Power. Sudah ribuan rak yang kami kerjakan sejak tahun 2021 hingga 2024 ini. Berkahnya, dapur rumah kami masih tetap Ngebul dengan adanya program ini, meski menghadapi musin barat," ujarnya, seraya menutup obrolan santai sambil menyeruput kopi panas yang baru saja disuguhkan sang istri.***