GERAKAN MEMBANGUN TERUMBU KARANG

(GERBANG TERANG)

Wujudkan Laut Bersih, Sehat & Produktif

NELAYAN KATAPANG DAMBAKAN DIBANGUNNYA PANGKALAN TAMBAT PERAHU

NELAYAN di Kampung Katapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang hingga kini mendambakan dibangunnya pangkalan air agar perahu mereka bisa ditambatkan dengan aman. Selama ini, perahu-perahu nelayan di wilayah tersebut disandarkan di darat jika tidak digunakan. Akibatnya, setiap kali harus melaut (mencari ikan-red), perahu harus didorong oleh banyak orang, demikian juga pada saat pulang.

Seorang nelayan Katapang, Ruyadinata (48) yang juga Ketua RT.03/RW.04 menuturkan pada Redaksi FPTK Banten, ampai saat ini karena tidak adanya pangkalan untuk menambatkan perahu, waktu menangkap ikan di laut para nelayan sangat terbatas, paling lama hanya sekira 3 jam. Dalam waktu tersebut, hasil tangkapan ikan juga kadang dapat, kadang tidak..

Para nelayan di Kampung Katapang mulai melaut sekira jam 04.30 WIB. Mereka secara hampir bersamaan berangkat dari rumah sekira jam 03.30 WIB. Karena perahu mereka tertambat di darat (beberapa puluh meter dari bibir pantai), butuh waktu setengah jam untuk mendorongnya ke laut secara bergantian. Di Katapang ini ada sekitar 30 perahu milik nelayan. Satu persatu, perahu tersebut kami dorong bersama-sama paling sedikit oleh 8-10 orang. Jika terlambat tiba di pantai, dipastikan nelayan tersebut tidak bisa melaut, karena perahunya tidak ada yang mendorong.

Selama menangkap ikan, nelayan Katapang harus kembali sekira jam 07.00 WIB, agar bisa mendaratkan perahunya. “Nah, pulangnya pun, kami harus kompak. Mininal 2 jam lamanya menangkap ikan. Dapat gak dapat ikan, harus kembali, agar perahu bisa ditambatkan di darat dengan didorong secara bersama-sama lagi,” ungkap Ruyadinata.

Dari kondisi yang terjadi selama ini, pendapatan ikan nelayan Katapang tidak optimal. Kalaupun lagi dapat ikan banyak, paling 5 genceng (ikat-red) yang berisi sekira 8-10 ikan. Jika dijual,  rata-rata 1 genceng Rp.50.000,-. Sementara biaya operasional sekali berlayar menghabiskan paling sedikit Rp.100.000,-. Biasanya juga hasil tangkapan ikan tidak dijual semuanya, karena ada yang harus dibawa ke rumah untuk dikonsumsi.

Menurut nelayan lainnya, Nurjaya (45), pendapatan dari hasil menangkap ikan selalu pas-pasan. “Kami punya keterbatasan waktu dalam menangkap ikan. Dan kondisi selama ini juga, tidak setiap hari ikan didapat,” tandasnya.

Keduanya pun berharap, pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun Provinsi Banten bisa mencarikan solusi dari persoalan yang dihadapi nelayan Katapang hingga sekarang ini. “Yang kami harapkan semacam pangkalan untuk menambatkan perahu kami di laut dengan aman. Tidak seperti sekarang, harus didaratkan ke pantai yang membutuhkan orang banyak untuk mendorongnya. Mudah-mudahan dengan solusi tersebut, kami bisa lebih lama lagi menangkap ikan dan hasilnya pun bisa meningkat,” pungkasnya.***

NKN 8391

NELAYAN KATAPANG DAMBAKAN DIBANGUNNYA PANGKALAN TAMBAT PERAHU

NELAYAN di Kampung Katapang, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang hingga kini mendambakan dibangunnya pangkalan air agar perahu mereka bisa ditambatkan dengan aman. Selama ini, perahu-perahu nelayan di wilayah tersebut disandarkan di darat jika tidak digunakan. Akibatnya, setiap kali harus melaut (mencari ikan-red), perahu harus didorong oleh banyak orang, demikian juga pada saat pulang.

Seorang nelayan Katapang, Ruyadinata (48) yang juga Ketua RT.03/RW.04 menuturkan pada Redaksi FPTK Banten, ampai saat ini karena tidak adanya pangkalan untuk menambatkan perahu, waktu menangkap ikan di laut para nelayan sangat terbatas, paling lama hanya sekira 3 jam. Dalam waktu tersebut, hasil tangkapan ikan juga kadang dapat, kadang tidak..

Para nelayan di Kampung Katapang mulai melaut sekira jam 04.30 WIB. Mereka secara hampir bersamaan berangkat dari rumah sekira jam 03.30 WIB. Karena perahu mereka tertambat di darat (beberapa puluh meter dari bibir pantai), butuh waktu setengah jam untuk mendorongnya ke laut secara bergantian. Di Katapang ini ada sekitar 30 perahu milik nelayan. Satu persatu, perahu tersebut kami dorong bersama-sama paling sedikit oleh 8-10 orang. Jika terlambat tiba di pantai, dipastikan nelayan tersebut tidak bisa melaut, karena perahunya tidak ada yang mendorong.

Selama menangkap ikan, nelayan Katapang harus kembali sekira jam 07.00 WIB, agar bisa mendaratkan perahunya. “Nah, pulangnya pun, kami harus kompak. Mininal 2 jam lamanya menangkap ikan. Dapat gak dapat ikan, harus kembali, agar perahu bisa ditambatkan di darat dengan didorong secara bersama-sama lagi,” ungkap Ruyadinata.

Dari kondisi yang terjadi selama ini, pendapatan ikan nelayan Katapang tidak optimal. Kalaupun lagi dapat ikan banyak, paling 5 genceng (ikat-red) yang berisi sekira 8-10 ikan. Jika dijual,  rata-rata 1 genceng Rp.50.000,-. Sementara biaya operasional sekali berlayar menghabiskan paling sedikit Rp.100.000,-. Biasanya juga hasil tangkapan ikan tidak dijual semuanya, karena ada yang harus dibawa ke rumah untuk dikonsumsi.

Menurut nelayan lainnya, Nurjaya (45), pendapatan dari hasil menangkap ikan selalu pas-pasan. “Kami punya keterbatasan waktu dalam menangkap ikan. Dan kondisi selama ini juga, tidak setiap hari ikan didapat,” tandasnya.

Keduanya pun berharap, pemerintah Kabupaten Pandeglang maupun Provinsi Banten bisa mencarikan solusi dari persoalan yang dihadapi nelayan Katapang hingga sekarang ini. “Yang kami harapkan semacam pangkalan untuk menambatkan perahu kami di laut dengan aman. Tidak seperti sekarang, harus didaratkan ke pantai yang membutuhkan orang banyak untuk mendorongnya. Mudah-mudahan dengan solusi tersebut, kami bisa lebih lama lagi menangkap ikan dan hasilnya pun bisa meningkat,” pungkasnya.***